Thursday, December 9, 2010

Susahnya kalau miskin dan terserang eklampsia

Ditengah malam, dua hari yang lalu, seorang ibu melahirkan bayinya di RB Umiyah. Proses kelahirannya berlangsung cepat, bayinya langsung menangis, namun ibu tersebut kemudian merasa sakit kepala dan terus pingsan. Ibu tersebut terserang eklampsia. Pasien terus diinfus dan segera dirujuk ke rumah sakit umum di Purworejo. Ternyata oleh RSU Purworejo, ibu tersebut kemudian dirujuk ke RSU Dr Sarjito di Yogyakarta.

Pre-eklampsia adalah suatu keadaan pada wanita hamil yang disertai dengan tanda tanda berupa tekanan darah tinggi, bengkak bengkak dan adanya protein dalam air kencing (urine). Pre-eklmapsia bisa menjadi eklampsia, yaitu keadaan pre-eklmapsia yang disertai dengan kejang kejang atau pingsan (koma). Eklampsia dapat menyebabkan kematian pada janin dan ibu. 

Ketika periksa hamil, ibu tersebut sudah didiagnosa menderita pre-eklampsia, mendapat obat untuk menurunkan tekanan darahnya dan disarankan untuk periksa ke RSU dan melahirkan disana. Namun hambatan biaya dan hambatan lainnya membuatnya tidak bisa menuruti saran bidan tersebut.

Ibu tersebut, meskipun berasal dari keluarga tidak mampu, masih mempunyai dana kontan sebesar Rp 325,000 ditangannya. Sayangnya, biaya sewa ambulans dari RSU Purworejo ke RSU Sarjito saja sebesar Rp. 375,000. Belum biaya untuk pengantar dan biaya lainnya. Akhirnya, diputuskan bahwa RB Umiyah memberi dana talangan kepada ibu tersebut sebagai sangu ke Yogya. Bila ibu tersebut tidak mampu mengembalikan, akan kita anggap sebagai sumbangan atau bantuan dari RB Umiyah.

Itu sepenggal kisah tentang pasien RB Umiyah. Banyak  hambatan non-teknis yang menghalangi seorang ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkannya. Alhamdulillah, berkat dukungan dermawan kepada RB Umiyah, ibu tersebut bisa segera dirujuk ke RSU Sarjito. Informasi terakhir yang saya terima, ibu tersebut telah sadar. Semoga bisa segera sembuh dan kembali kerumah.

Di Nepal, negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu berani menggratiskan biaya persalinan, dan masih ditambah lagi dengan penggantian biaya transportasinya ke rumah sakit. Oleh karena itu tidak heran bila Nepal termasuk negara yang berhasil menurunkan angka kematian ibu.
Saat ini ada 7 program perlindungan kesehatan sosial (Social Health Protection) di Nepal:

1. Pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas bagi semua orang.
2. Pelayanan persalinan gratis oleh tenaga kesehatan. Bila melahirkan di rumah sakit (institusi kesehatan), biaya transportasi juga diganti.
3. Gratis biaya operasi jantung untuk anak dibawah 15 tahun dan orang tua diatas 75 tahun.
4. Gratis cuci darah dan pengobatan kanker bagi masyarakat tidak mampu.
5. Biaya pengobatan gratis bagi suku minoritas dan penduduk dengan kasta paling bawah.
6. Gratis biaya operasi rahim turun (prolapse uteri)

Indonesia, yang jauh lebih kaya, perlu belajar dari Nepal.








No comments:

Post a Comment

Post a Comment