Tuesday, October 19, 2010

Orang biasa yang melakukan hal hal luar biasa (2)

Efren Penaflorida dilahirkan pada tahun 1981. Ayahnya bekerja sebagai sopir yang kemudian membuka usaha dengan berjualan mie. Efren dan keluarganya tinggal di daerah kumuh dekat pembuangan barang bekas/sampah di kota Cavite, Pilippina. Seperti juga teman teman seusianya, dimasa kecil Efren juga sering bermain diantara sampah yang berserakan dan berenang di air kotor. 
Pada tahun 1997, ketika berumur16 tahun, Efren bersama teman teman SMU-nya membentuk sebuah group yang berkampanye mengajak anak anak menjauh dari gang anak jalanan. Groupnya juga melakukan  kegiatan pengembangan diri dan pengembangan bakat serta memberikan pelayanan masyarakat bagi anak anak dari keluarga tidak mampu yang tinggal di daerah kumuh. Mereka menamai group tersebut sebagai Dynamic Teen Company.
Dynamic Teem Company mulai sebagai klub persaudaraan yang beranggotakan sekitar 20 orang. Mereka kemudian bekerja sama dengan Club 8586, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di daerah tersebut. Bersama mereka kemudian memulai kegiatan yang mereka beri nama "pushcart classroom" (ruang kelas gerobak dorong), dimana gerobak diisi dengan bahan belajar mengajar seperti buku, pena, meja dan kursi dan membuka kelas di pekuburan atau di dekat tempat pembuangan sampah. Pada tahun 2009, Dynamic Teen Company mempunyai 120 tenaga sukarelawan, 350 murid dan melakukan kegiatan pushcart classroom di 4 lokasi.


Di Indonesia kita punya ibu kembar, Sri Rosiati (Rosi) dan Sri Irianingsih (Rian).   Rian yang pernah menjadi pebisnis properti sukses dan Rossy sang dokter telah memutuskan untuk turun tangan langsung ke lapangan. Bermula dari sekedar membuka sekolah informal untuk mengajarkan membaca dan menulis, kini dua perempuan yang akrab dipanggil Ibu Kembar itu telah berhasil membuka Sekolah Darurat mulai dari bangku TK hingga SD. Sekolah itu tidak hanya memberikan fasilitas belajar gratis namun juga menjadi sentra peningkatan kualitas hidup anak-anak. Kiprah dua ibu yang mengaku tak pernah tahu persis berapa biaya yang telah mereka keluarkan untuk mengurusi ribuan anak miskin itu memang telah diakui publik. Ibu Kembar serta Sekolah Darurat Kartini telah sangat populer bahkan fenomenal. Pasalnya, selain bergerak mandiri dengan merogoh dana dari kocek sendiri, gerakan Ibu Kembar terbilang paling masif dan kontinyu. Ribuan anak dari keluarga proletar telah berhasil menemukan kembali harapan masa depannya. Pada 2004, tak kurang 2.000 anak terdaftar di Sekolah Darurat Kartini. Pendidikan telah memberikan alternatif bagi anak-anak yang semula tak memiliki banyak pilihan untuk merajut masa depannya itu.  Aksi sosial Rosi dan Rian pantas diacungi jempol. Maklum, ibu kembar kerap menyambangi lima sekolah darurat miliknya. Bahkan, mereka pun turut mengajar. Hebatnya lagi, untuk mem¬biayai kegiatan sekolah darurat itu, ibu kembar merogoh kocek pribadinya.
Efren Penaflorida dan ibu kembar telah bergerak ketika orang orang lain hanya bicara. Mari kita ikuti jejak mereka, jejak langkah orang orang yang berani mengambil jalur yang jarang dilewati, jalur di jalan yang mendaki lagi sulit.

No comments:

Post a Comment