Tuesday, June 14, 2011

Hutang dan sedekah

Saya amati ternyata cukup banyak orang orang disekitar saya yang terbelit hutang. sebagian dari  mereka terbelit hutang karena meminjam uang ke bank untuk kebutuhan konsumptif, seperti untuk beli kendaraan bermotor, dan kebutuhan sekunder lainnya. Sebagian karena pinjam uang ke bank untuk modal usaha, namun bisnisnya gagal, tidak berjalan sesuai yang direncanakan. Sebagian lagi terbelit hutang karena tidak punya uang kontan untuk membiayai sekolah anak atau membayar biaya pengobatan.

Kebanyakan dari mereka belum mampu melepaskan diri dari belitan hutangnya. Meskipun sudah bertahun-tahun mencoba melunasi hutangnya, belum juga mereka mampu menutupnya.

Kebetulan, saya menemukan beberapa kisah tentang orang orang yang bisa lepas dari lilitan hutang. Saya coba sampaikan ringkasan kisahnya. Semoga pembaca bisa mengambil hikmahnya:

1. Kisah tentang Abdullah yang saya ambil dari http://www.7kids.co.cc/kisahtauladan/kisah_sedekah

Abdullah, seorang pegawai dengan gaji bulanan 4000 Riyal menghadapi pelbagai masalah kewangan dan hutang.
Beliau bercerita: Saya menyangka bahawa saya akan hidup dalam keadaan ini sehingga mati dan keadaan saya tidak akan berubah buat selama-lamanya. Apa yang paling saya takuti ialah saya akan mati dalam keadaan berhutang yang bertambah pada setiap detik. Keperluan hidup benar-benar menyesakkan saya. Pada suatu hari saya pergi berehat di tempat-tempat orang muda yang mempunyai masalah seperti saya. Tujuan saya pergi ke sana ialah untuk meringankan bebanan diri saya dengan mendengar masalah orang lain. Pada hari tersebut terdapat salah seorang kawan yang saya hormati pandangannya lalu saya mengadukanperihal saya kepadanya. Beliau lalu menasihatkan agar saya mengkhususkan suatu bahagian daripada gaji bulanan saya untuk sedekah. Saya menjawab: “Saya makan pun tak cukup macam mana nak sedekah ?”

Apabila saya balik ke rumah saya bercerita kepada isteri saya tentang apa yang berlaku. Isteri saya berkata: “Apa kata kita cuba dan mungkin Allah akan membuka jalan bagi kita.” Saya lalu menjawab: “Oleh yang demikian saya akan mengkhususkan 300 Riyal daripada gaji bulanan untuk sedekah.” Demi Allah selepas itu hidup saya mula berubah. Perasaan lapang mula menyelubungi saya dan saya menjadi sangat optimistik. Selepas dua bulan, hidup saya mula menjadi teratur semula. Saya mengecap barakah dalam gaji saya yang saya tidak pernah temui sebelum ini. Saya mendapat kekuatan pengurusan sehingga saya boleh menjangkakan bila hutang saya akan selesai.

Selepas beberapa lama salah seorang saudara saya memulakan perniagaan hartanah dan setiap kali saya mendapatkan seorang ahli syer yang baru maka saya mendapat komisen. Segala puji bagi Allah, saya merasakan bahawa hutang-hutang saya akan habis dalam tempoh yang dekat. Setiap komisen yang saya dapat juga saya tidak lupa memperuntukkan satu bahagian untuk sedekah. Demi Allah, sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengetahui kelebihannya melainkan orang yang telah mengecapinya. Bersedekahlah dan bersabar nescaya anda akan lihat kebaikan dan keberkatan dengan izin Allah.

Kisah kedua, saya ambil dari website Wisata Hati http://www.wisatahati.com/modul.php?flmodul=content_testimoni_title

Tersebutlah seorang lelaki asal Jawa Tengah, yang terbelit hutang kurang lebih Rp. 126jt. Dan dia mengaku sudah dalam keadaan tidak lagi punya harapan. Seisi rumah barang-barangnya satu demi satu habis dijual. Baik untuk bayar hutang, maupun untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Tertinggal hanya rumah, yang itu pun belum lunas kreditannya.
Suatu hari dia menemui Ustadz Sedekah, yang menyarankan kepada dirinya untuk bersedekah di jalan Allah, dengan sedekah terbaik. Supaya apa? Supaya dapat ridho Allah. Kalau Allah sudah ridho, maka usahanya untuk membayaar hutang kemungkinan akan berhasil. Kata si Ustadz tersebut, mengapa dia begitu sulit membayar hutang, bisa jadi Allah belum ridho dan belum memberikan izin. Nah, bersedekah, adalah salah satu upaya untuk mendatangkan ridho Allah.
Singkat cerita, rumah tersebut dia jual! Dengan harga 18 juta rupiah. Harga ini bahkan di bawah standar. Dia harusnya bisa mengover kredit rumahnya ini seharga 23jt rupiah. Tapi si Ustadz mendorong, sudahlah, jangan menunggu harganya menjadi 23jt rupiah. Jual saja dengan harga yang ditawar dan dibayar paling cepat. Insya Allah di mata Allah, harga jualnya tetap 23jt rupiah. Setelah dapat uang 18jt rupiah, orang ini kemudian mengambil 3jt untuk mengontrak rumah dan sekedar untuk bertahan hidup selama beberapa pekan. Dia bismillah, akan berusaha yang terbaik. Allah menjawab doanya. Orang ini bersedia bersedekah yang terbaik. Tidak gampang bersedekah seperti yang dia lakukan. Menjual rumahnya, dan mengambil hanya beberapa rupiah, lalu menyedekahkan sisanya.
Dan orang ini pun meninggalkan pekerjaannya. Dia marketing sebuah perusahaan farmasi yang kebetulan pimpinannya mengharuskan dia bermain kotor. Menyuap dengan uang dan memberikan perempuan untuk para dokter, adalah sebagian dari caranya mengejar target perusahaan. Kelak kemudian dia menyadari bahwa cara inilah yang membuatnya terbenam dalam lautan hutang! Ya, Allah menjawab doanya. Ketika dia bersedekah dan meninggalkan lingkungan pekerjaan kotornya, dia kemudian berniaga, mandiri. Usahanya membuahkan hasil, kali ini, justru dari bidang yang selama ini dia tidak pernah geluti. Bidang advertising. Dia berhasil meng-close iklan layanan masyarakat dan iklan produk untuk sebuah agency periklanan besar milik seorang kawan kenalannya. Dan dalam satu bulan usaha dia meng-close iklan tersebut, dia dapat komisi yang tidak tanggung-tanggung besarnya. 157jt! Bersih! Subhanallah, dia kemudian bisa membayar hutangnya yang 126jt, dan bahkan dia bisa membeli lagi rumah yang lain sebagai pengganti rumah yang dia jual untuk disedekahkan kemaren dulu. Allah memang Maha Menepati Janji-Nya. Siapa saja yang mencintai sedekah, Allah akan mengulurkan Tangan-Nya membantu.
Kisah ketiga saya ambil dari blog ini
Scott dan Amy Lee: Pengalaman sedekah 40% gaji

Pengalaman memberi sedekah Scott Lee dimulai ketika dia harus bercerai dan membuatnya berhutang dari kartu kredit sebesar US$ 26,000 (sekitar Rp 225 juta). Sejak saat perceraian itu, Scott Lee hidup sederhana, bersedekah 10% dari penghasilannya dan menyisihkan sisanya untuk membayar hutang. Bila ada kelebihan uang, semuanya dia salurkan untuk menutup hutangnya. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa bila Tuhan menginginkan dia mempunyai mobil atau mengambil liburan, pasti akan diberikan dalam bentuk mobil atau liburan, bukan berupa uang. Bila diberikan dalam bentuk uang, tentu akan dia pakai untuk menutup hutangnya.

Pada suatu saat Scott Lee merasa sangat memerlukan liburan. Dia berdoa kepada Tuhan. Tidak berapa lama, seorang teman menelponnya dan mengajaknya berlibur karena sang teman tersebut mendapat paket liburan gratis dari Bahamian Bourd Torism. Diwaktu yang lain, seseorang memberinya mobil bekas sebagai ucapan terima kasih karena telah berhasil membawa 2 rombongan ke Eropa.

Setelah selesai melunasi hutangnya, Scott Lee tetap hidup sederhana. Dia kemudian menikah dengan Amy yang bersedia menjalani hidup secara sederhana juga. Mereka hidup sederhana dengan hanya memakai gaji Scott Lee, menyedekahkan 10% gaji Amy Lee dan menabung 90% sisa gaji Amy untuk keperluan masa depannya.

Tapi kemudian mereka berubah. Mereka terinspirasi untuk meningkatkan sedekahnya. Akhirnya Scott dan Amy Lee sepakat untuk menyedekahkan 40% gaji Amy Lee. Kalau dulu mereka hidup sederhana karena takut tidak punya uang nantinya, maka kini mereka hidup sederhana agar bisa bersedekah dalam jumlah yang lebih besar, yaitu 40% gaji Amy Lee.

Namun ternyata, sedekah 40% gaji tidak membuat mereka menjadi miskin, bahkan sebaliknya. Salah seorang kenalannya menawarkan kepada mereka untuk menyewa apartemen yang lebih luas namun dengan harga yang lebih murah dari yang mereka tempati saat itu. Selain itu, Amy Lee juga mendapat kenaikan gaji. Ketika keduanya membuka catatan keuangan keluarga ternyata sedekah 40% dari gaji tidak membuat mereka berkurang tabungannya. Tabungan mereka setiap bulannya ternyata tetap meningkat seperti ketika mereka hanya menyedekahkan 10% gajinya

5 comments:

  1. Saya sangat terharu dengan kisah2 diatas..
    saya juga seorang yang sedang terlilit hutang, tapi bukan hanya itu sebulan sebelum saya menikah, saya di PHK dari tempat saya bekerja..
    hingga kini saya masih mencari pekerjaan..
    saya bingung harus bagaimana, karena memang saya tidak ada penghasilan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba tiru orang orang diatas, insya Allah Habib juga akan bisa dapat pekerjaan, melunasi hutang dan semakin sukses dunia akhirat

      Delete
  2. Mas Habib, usahakan jangan nganggur lama lama. Kerja saja seadanya dan sebisanya. Ustadz Yusuf Mansyur mau jualan es di terminal sebelum jadi dai kondang

    ReplyDelete
  3. saya juga mengalami hal yang serupa, terkadang rasanya ingin mengakhiri hidup ini jika tidak ingat dengan anak dan suami....mudah2an Allah memudahkan rezeki saya dan suami... amin..

    ReplyDelete
  4. Coba sisihkan sebagian rezeki untuk sedekah, insya Allah hutang anda bisa lunas. Selain sedekah lakukan juga amalan amalan lain. Sebaiknya lakukan hal tersebut bersama suami/istri

    ReplyDelete