Thursday, June 2, 2011

Belajar bersedekah

Program rehab rumah
Sejak kecil sebagian besar dari kita sudah belajar sedekah, yaitu dengan memberikan uang receh kepada pengemis yang datang meminta minta atau kita temui di jalan, membayar zakat fitrah di bulan puasa dan mengisi kotak amal di masjid (dengan uang recehan juga). Sumbangan juga biasa kita berikan bila ada kematian.

Sayangnya, pelajaran tentang sedekah sebagian besar berhenti sampai  disitu. Saya juga begitu. Dahulu, sedekah yang saya lakukan juga sebatas hal hal tersebut (memberi uang kecil kepada pengemis, zakat fitrah, mengisi kotak amal setiap Jumat, dll). Sedekah dalam jumlah besar, apalagi mau berkorban agar bisa menolong orang, belum ada dipikiran saya.

Saya mulai belajar bersedekah dengan alasan yang sangat duniawi. Saat itu saya ingin meningkatkan penghasilan saya. Saya banyak membaca buku tentang hal hal yang berkaitan dengan "penghasilan". Saya tidak batasi sumbernya. Saya baca buku karangan orang Budhis, Kristen, Yahudi dan Islam. Dari berbagai buku tentang rahasia sukses (terutama sukses material) yang saya baca, salah satu "kunci sukses" yang sering muncul adalah "lakukan sedekah atau menolong orang yang membutuhkan". Nasehat tersebut coba saya terapkan sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, hingga sekarang saya tidak pernah kesulitan uang, walaupun juga tidak kaya raya.

Pengalaman saya sedekah yang paling berkah adalah dengan membantu orang tua. Misalnya dengan merehabilitasi rumah orang tua. Pengalaman teman saya, seorang dokter, sangat laris prakteknya setelah dia merehab rumah orang tuanya. Sedekah kepada anak yatim juga termasuk salah satu sedekah yang berkah.

Salah satu sedekah yang saya lihat banyak membantu penerima sedekah adalah sedekah untuk membiayai saudara (keponakan) untuk kuliah di Universitas. Hingga saat ini, rata rata penghasilan seorang sarjana jauh lebih besar dibandingkan dengan penghasilan lulusan SMU.

Semoga bermanfaat



No comments:

Post a Comment

Post a Comment