Friday, February 17, 2012

Tirto Jiwo, membantu pemulihan gangguan jiwa

 

Prof John Forbes Nash
Penderita gangguan jiwa berat bisa pulih. Mereka bisa kembali ke masyarakat, bekerja dan hidup normal sebagaimana masyarakat pada umumnya. Salah satu contohnya adalah Dr John Forbes Nash yang meskipun menderita schizophrenia, bisa pulih kembali bekerja dan bahkan menerima hadiah Nobel.
Hanya saja, proses pemulihan tersebut tidak selalu berjalan lurus dan lancar, kadang ada proses naik turunnya. Agar proses pemulihan berjalan dengan baik, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, utamanya dukungan dari keluarga (atau orang dekat), tenaga kesehatan, kawan sesama penderita gangguan jiwa dan masyarakat sekitar.
Pada saat ini, sebagian besar penderita gangguan jiwa di Indonesia tidak mendapat dukungan yang memadai. Mereka hanya minum obat dan kontrol ke dokter ahli jiwa sekali atau dua kali dalam sebulannya. Selepas itu, proses pemulihan hanya ditangan keluarganya, yang sering tidak mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mendukung proses pemulihan.
Saat ini kami sedang membangun Tirto Jiwo di desa Kalinongko, Purworejo diatas lahan seluas 2500 m2. Tirto Jiwo nantinya akan menjadi sebuah panti sosial yang mempunyai misi mendukung proses pemulihan penderita gangguan jiwa untuk kembali berkarya di masyarakat. Peserta program Tirto Jiwo adalah para penderita gangguan jiwa berat yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan sedang berobat jalan. Tirto Jiwo tidak menerima peserta gangguan jiwa berat yang tidak dalam pengobatan dokter ahli jiwa.
Di Tirto Jiwo, masing masing peserta akan mendapat dukungan dan pelatihan sesuai dengan tingkat pemulihannya. Program pemulihan Tirto Jiwo antara lain meliputi kegiatan: penguatan mental spiritual, melakukan dan belajar kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis (berternak, berkebun, kerajinan tangan), kegiatan sosial (sedekah nasi bungkus, merawat masjid/ rumah janda miskin), serta olah raga dan kegiatan kesenian. Di Tirto Jiwo, peserta program juga akan dibimbing agar mulai belajar untuk bisa mandiri secara finansial.
Program pemulihan di Tirto Jiwo disusun fleksibel (tidak kaku), sesuai kebutuhan dan kesempatan masing masing peserta. Peserta bisa tinggal di Tirto Jiwo selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Hanya perlu diingat bahwa proses pemulihan biasanya berlangsung cukup lama (lebih dari sebulan) dan berkelanjutan. Bila peserta hanya bisa tinggal di Tirto Jiwo selama sekitar 1-2 minggu, maka diharapkan pada bulan berikutnya, peserta akan kembali ke Tirto Jiwo lagi untuk tinggal selama 1-2 minggu lagi. Begitu seterusnya hingga peserta pulih dan hidup mandiri di masyarakat. Peserta program yang telah mencapai tingkat lanjut akan membibing dan menjadi panutan (role model) bagi peserta yang masih berada d tingkat awal dalam jenjang pemulihan. Tirto Jiwo juga akan dikembangkan agar dapat menjadi “club house”, dimana alumni bisa berkunjung dan bertemu dan bersosialisasi dengan peserta rogram.
Dukungan keluarga atau orang orang dekat sangat penting dalam pemulihan penderita gangguan jiwa. Untuk mendukung proses pemulihan, keluarga dari peserta program pemulihan dapat berkunjung dan menginap (selama beberapa hari) di Tirto Jiwo. Selama kunjungan, keluarga diharapkan dapat terlibat dalam kegiatan pemulihan, khususnya kegiatan yang bersifat sosial (sedekah nasi bungkus, perawatan rumah janda miskin, dll).
Rencananya, di Tirto Jiwo, tidak ada biaya khusus bagi peserta program pemulihan. Peserta diminta mengisi kotak amal sesuai kemampuannya. Selain itu, peserta dan keluarga juga diajak untuk menjadi donator untuk mendukung program sedekah nasi bungkus setiap hari Jumat dan kegiatan sosial lainnya.

No comments:

Post a Comment