Friday, March 30, 2012

Mbah Ambyah memanfaatkan Klinik Umiyah

Mbah Ambyah, 72 tahun














mbah Ambyah
Mbah Ambyah (72 tahun), tinggal di Gintungan rt 01/rw 04, buruh tani dengan 8 anak, datang ke Klinik Umiyah dengan keluhan kaki tertusuk paku berkarat di sawah. Saat diukur tekanan darahnya 200/100, sudah tergolong hipertensi stage II. Oleh dokter jaga diberi obat untuk menurunkan tekanan darah terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan terhadap lukanya serta diberi suntikan anti tetanus (ATS)



Semoga Klinik Umiyah membawa keberkahan kepada pasien dhuafa, petugas kesehatan Klinik Umiyah dan segenap dermawan pendukung. amin

Tuesday, March 27, 2012

Mencegah penderita gangguan jiwa agar tidak kambuh


Penderita gangguan jiwa bisa pulih selamanya tanpa pernah kambuh. Meskipun demikian, kebanyakan penderita gangguan jiwa yang sudah pulih masih bisa kambuh kembali. Walaupun sedang dalam pengobatan, penderita gangguan jiwa bisa kambuh kembali. 
Untungnya, kambuh biasanya tidak terjadi secara mendadak. Oleh karena mengenal tanda tanda awal kambuhnya seorang penderita sangat penting agar kambuh bisa dicegah, dihindari atau segera ditangani.
Ada dua faktor yang mengakibatkan kambuh, yaitu: faktor kerentanan seperti berhenti minum obat, meminum alkohol atau narkoba, kurangnya dukungan sosial dan kesehatan fisik yang rendah. Faktor kedua adalah faktor yang melindungi seseorang dari kambuh, yaitu: tubuh yang sehat, minum obat teratur, kemampuan mengatasi masalah dan adanya dukungan sosial.
Beberapa tanda awal bila seseorang penderita akan kambuh adalah:
Perubahan perasaan, seperti: cemas, takut, mudah tersinggung dan menjadi agresif, merasa sangat sedih atau tidak bahagia, merasa terancam atau tidak aman, dan paranoid (merasa orang lain ngomongin anda)
Perubahan pikiran, seperti: kesulitan konsentrasi atau berfikir, sulit membuat keputusan, banyak pikiran atau bingung, berpikiran negatif atau pesimis, mendengan suara suara dari dalam dirinya sendiri, berpikir tentang menganiaya diri sendiri, memikirkan kejadian masa lalu.
Perubahan perilaku, seperti: menyendiri atau tidak ingin pergi keluar, nafsu makan naik atau turun, kebanyakan atau susah tidur, banyak minum alkohol atau narkoba, gampang marah/menangis atau tertawa, tidak bertenaga, malas mandi atau membersihkan lingkungan.
Selain tanda tanda awal, penderita gangguan jiwa perlu mengenal (berdasar pengalaman sebelumnya) hal hal yang menyebabkan atau mencetuskan kambuh tersebut. Misalnya: kebanyakan begadang, tidak minum obat, minum alkhol, berdebat dengan atasan, bertengkar dengan teman atau anggauta keluarga, dll. Dengan mengenal faktor pencetus, maka faktor tersebut bisa dihindari atau dikurangi intensitasnya.
Hal berikutnya yang perlu diketahui adalah hal hal apa yang dapat mengurangi dan memperbaiki situasi, bila tanda tanda awal akan kambuh telah muncul. Misalnya: tidur lebih banyak (ekstra), berbicara dengan orang dekat yang dipercaya, menulis dalam buku harian, mendatangi kelompok penderita gangguan jiwa (self-help support group), berjalan jalan ditaman, mengurangi beban kerja, melakukan hobi, dll.
Selain itu, penderita perlu memperkuat dirinya sehingga tidak mudah kambuh. Misalnya dengan melakukan hal hal positif sebagai berikut: makan yang teratur dan sehat, olah raga secara teratur, tidur yang cukup (jangan suka bergadang), belajar ketrampilan agar bisa santai (relaxation skills seperti: bernapas panjang, progressive muscle relaxation, meditasi, dll), serta melatih ketrampilan berpikir sehat. Biasanya penderita gangguan jiwa sering terjebak dalam pola pikir: hitam-putih (100% benar atau 100% salah, tidak ada salah sedikit), hanya percaya hal hal negatif dan menolak hal hal yang positif, dramatisasi- smasalah kecil dikira akan berakibat besar, dan overgeneralization.
Penderita gangguan jiwa juga perlu belajar mengendalikan suara suara yang muncul dari dalam dirinya. Cara cara yang bisa dilakukan antara lain: (a) Ingatkan pada diri sendiri bahwa andalah yang mengendalikan situasi, suara tersebut tidak berbahaya selama anda tidak mendengarkan atau mengabaikan suara tersebut. Suara tersebut sangat mengenal anda karena berasal dari dalam diri anda sendiri. (b) Pelajari kapan dan dimana suara tersebut mulai muncul. Hindari hal hal yang menyebabkan munculnya suara tersebut. (c) lakukan hal hal yang menyenangkan yang membuat anda tidak tertuju kepada suara tersebut, misalnya dengan mendengarkan musik. (d). Tentukan batasan batasan, misalnya katakan kepada suara tersebut agar berhenti sekarang atau anda akan mendengarkan suara tersebut nanti. (e) cari orang orang atau kelompok yang mau mendukung (support group). 
Hal hal yang tidak bermanfaat dalam mengatasi suara adalah sebagai berikut: duduk pasif melihat TV, berdebat dengan suara tersebut, minum alkohol untuk melawan suara tersebut dan mengisolasi diri.
Hal hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi munculnya delusi (kepercayaan yang tidak berdasar) dan pemikiran yang menyimpang adalah: (a) berpikir adanya bukti nyata yang terkait dengan pemikiran atau kepercayaan yang muncul (b) tulislah semua alasan yang bisa menjelaskan kepercayaan atau pemikiran tersebut, (c) berbicara dengan teman atau petugas kesehatan.


Monday, March 26, 2012

Ambiguous Genitalia


Kelamin ganda (ambiguous genitalia) adalah suatu kejadian langka dimana alat kelamin bayi tidak jelas sebagai alat kelamin laki laki atau perempuan. Pada penderita kelamin ganda, alat kelamin tidak tumbuh sempurna atau bayi tersebut mempunyai dua buah alat kelamin, yaitu alat kelamin laki laki dan perempuan. Pada penderita kelamin ganda, alat kelamin yang ada di luar tubuh mungkin tidak sama dengan jenis alat kelamin yang ada di dalam tubuh. Misalnya, meskipun diluar seperti alat kelamin perempuan, namun tubuh bagian dalam tidak punya rahim atau indung telur.
Kelamin ganda bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan suatu gangguan pertumbuhan dari alat kelamin seseorang ketika masih janin (bayi).  Kelamin ganda biasanya segera diketahui setelah bayi lahir. Kondisi tersebut sering membuat cemas kedua orang tua si bayi.
Gejala dari kelamin ganda (ambigous genitalia), pada bayi yang secara genetika seorang perempuan (kedua chromosome XX), maka terlihat clitoris yang membesar yang sering dikira sebagai penis, bibir bawah yang tertutup atau seperti lipatan hingga dikira sebagai scrotum, benjolan dibawah kelamin yang dikira sebagai testis.
Pada bayi yang secara genetis adalah laki laki, maka gejalanya adalah: saluran kencing tidak sampai ke depan penis (berhenti dan keluar ditengah atau dipangkal penis), penis sangat kecil dengan lubang saluran kencing dekat dari scrotum, testis tidak ada atau hanya ada satu buah.
Penyebab dari ambiguous genitalia adalah karena terjadinya gangguan pertumbuhan alat kelamin ketika masih didalam rahim ibu. Pada bayi yang secara genetika berkelamin perempuan, ketika dalam pertumbuhannya mendapat banyak hormon laki laki sehingga pertumbuhan alat kelamin menjadi melenceng. Begitu pula dengan bayi yang secara genetika adalah laki laki, bila ketika sedang dalam masa pertumbuhan alat kelamin mendapat banyak hormon perempuan maka pertumbuhan alat kelamin laki lakinya menjadi tidak sempurna atau melenceng ke alat kelamin laki laki.
Ambiguous genitalia perlu ditangani oleh dokter spesialis dalam suatu tim, yang antara lain terdiri dari ahli penyakit anak, ahli urologi, ahli genetika, ahli bedah dan psikolog. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti: pemeriksaan darah untuk memeriksa tingkat hormon dan genetika (XX atau XY), pemeriksaan USG di pinggang untuk melihat organ dalam seperti adanya rahim atau vagina dan testis yang tidak turun. Berdasar pemeriksaan tersebut dokter akan bisa menentukan jenis kelamin sang anak dengan melihat potensi kedepannya.
Pengobatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemberian hormon segera setelah bayi lahir untuk mengatasi ketidak seimbangan hormonal yang ada. Pada bayi dengan clitoris yang membesar, pemberian hormon akan dapat mengurangi dan mengecilkan clitoris ke ukuran normal.
2. Pembedahan mungkin perlu dilakukan untuk memperbaiki fungsi alat kelamin dan memperbaiki tampilan luarnya. Pembedahan ulangan mungkin diperlukan ketika anak telah dewasa.
Disarikan dari artikel Ambiguous Genitalia oleh Staff Mayo Clinic yang dapat diakses di  http://www.mayoclinic.com/health/ambiguous-genitalia/DS00668

Saturday, March 24, 2012

Klinik Umiyah melayani pasien dhuafa tanpa administrasi berbelit

Pasien dhuafa tanpa jamkesmas di Klinik Umiyah
Di Klinik Umiyah pasien tidak pernah ditolak hanya karena masalah biaya. Berobat ke Klinik Umiyah juga tidak perlu prosedur administrasi berbelit. Pasien cukup mengisi kotak infaq seikhlasnya.

Klinik Umiyah bisa berjalan karena dukungan para dermawan. Salurkan zakat, infaq dan sedekah anda ke Klinik Umiyah melalui:

1.  Rekening Britama BRI Cabang Purworejo 0078-01-029420-50-3 atas nama Yaysan Islam Ummy.

2. Rekening Bank Mandiri KCP Purworejo 136-00-1075666-3 atas nama Yayasan Islam UmmyRekening Bank Mandiri

Thursday, March 22, 2012

Perkembangan penanganan adik Alif Oktaviansyah, penderita meningocele

Adik Alif Oktaviansyah menderita kelainan yang terjadi kira kira pada satu diantara 5000-10.000 kelahiran. Pada penderita meningocele maka tulang kepala tidak menutup sempurna sehingga selaput otak (atau kadang sebagian jaringan otak) ikut keluar dari tengkorak. Meningocele bisa terjadi pada tulang belakang, bisa juga dikepala bagian depan, belakang atau samping. Adik Alif menderita meningocele di bagian hidung atau wajah.
Bila meningocele terjadi di bagian depan, seperti pada kasus adik Alif Oktaviansyah maka reparasinya menjadi lebih sulit karena bisa menyebabkan kerusakan pada wajah atau mata.
Sebagai tindak lanjut dari konsultasi oleh Bapak Wibowo, pengurus Yayasan Ummy, ke RS Sarjito, alhamdulillah tadi siang adik Alif Oktaviansyah telah diperiksa oleh dokter di Klinik Bedah Saraf, RS Sarjito. Minggu depan masih harus datang lagi untuk pemeriksaan radiologis. Berdasar hasil pemeriksaan tersebut, maka dokter bedah saraf akan menyusun tindakan operasi yang harus dilakukan. Tindakan operasi untuk menolong adik Alif Oktaviansyah pasti bukan pekerjaan gampang.

Marilah kita doakan agar adik Alif Oktaviansyah bisa lekas sembuh.

Wednesday, March 21, 2012

Perkembangan Rendi Setiawan, pasien dengan jantung cacat bawaan Tetralogy Fallot

Alhamdulillah, setelah pulang dari RS Sarjito kemarin, adik Rendi Setiawan (9 tahun) yang menderita cacat jantung bawaan Tetralogy Fallot mendapat bantuan dari #Sedekah Rombongan sebesar Rp 2 juta. Berikut ini saya kutipkan laporan pemberian dari #Sedekah rombongan

Sudah keluar masuk RS Sardjito karena keadaan dek Rendi tidak selalu sehat dan membutuhkan bantuan oksigen, serta perlu perawatan dokterRendi Setiawan (9 tahun) alamat desa Baledono Purworejo. Mengalami sakit jantung bawaan (Tetralogy Fallot). Sudah keluar masuk RS Sardjito karena keadaan dek Rendi tidak selalu sehat dan membutuhkan bantuan oksigen, serta perlu perawatan dokter. Rendi tidak diasuh oleh orang tuanya, tapi ikut neneknya Ibu Semi dan kakeknya Pak Ngadiman yang bekerja sebagai pedagang kaki lima di pasar dan butuh biaya untuk perawatan Rendi kalau di Rumah Sakit. Pemeriksaan Echo dilakukan berkali-kali untuk mengetahui perkembangan jantungnya, dan menunggu keputusan dokter apakah bisa dioperasi atau tidak. Bantuan ini membaikkan …
Jumlah Bantuan : Rp.2.000.000,-
Kurir : @KarmanMove via @Tya_Nurulendah
Tanggal : 20/3/2012
Sudah keluar masuk RS Sardjito karena keadaan dek Rendi tidak selalu sehat dan membutuhkan bantuan oksigen, serta perlu perawatan dokter
____________________________

Klinik Umiyah juga mendapat  transfer dana dari para dermawan, misalnya sebesar Rp 1 juta dari ibu Tjatri Dwimunali, Bristol, Inggris dan dari dermawan lain. Karena sudah mendapat dana Rp 2 juta dari #Sedekah Rombongan, Dana di Klinik Umiyah tersebut masih kami simpan untuk keperluan biaya kesehatan lainnya karena hingga sekarang belum tahu kapan Dik Rendi akan bisa dioperasi.

Tuesday, March 20, 2012

Liputan Klinik Umiyah di Koran The Jakarta Post 20 Maret 2012

Gunawan Setiadi: From charity to free medical care

Slamet Susanto, The Jakarta Post, Purworejo, Central Java | Tue, 03/20/2012 8:13 PM
A | A | A |
JP/Slamet SusantoJP/Slamet Susanto
Fortune will come from God in the way men are willing to give part of their wealth to charity. Based on this principle, Umiyah Clinic in Purworejo, Central Java, is capable of operating on philanthropists’ donations by focusing on free medical care for poor people.

“We also use logic while maintaining the clinic with heart. As shown by history, literature and experience, good fortune comes along with charity and alms, or sodaqoh,” said Gunawan Setiadi, the Health Ministry’s former planning chief. He referred to business magnate Bill Gates, among many other figures, who annually contribute billions of dollars.

He related that when he occupied a modest mortgaged home in Pamulang, Banten, he owned Rp 10 million reserved for renovation. But at the same time his relatives were in great need of help. “Finally I just made minor changes and contributed most of my money as sodaqoh. Later I could even afford to buy another house,” added Gunawan, who eventually granted charity both to orphans and street children.

Sharing wealth with the poor, according to him, needs frequent practice to avoid greed. People who donate with sincerity win public confidence and it’s this trust that brings them good fortune. “That’s the logic of sharing with others for God’s blessing,” he pointed out.

To invite public donations to charity to help the ailing poor, the clinic was named after a very poor resident, Umiyati, who met with a tragic fate as she was beyond the reach of the government’s health insurance scheme. Coming from Krendetan village, Bagelen, Purworejo, the wife of a becak (pedicab) driver suffered from a type of hernia for 12 years.

Applying for public health insurance service, the poor family was rejected. Finally through a collective charity movement, Umiyati was taken to Yogyakarta for surgery. Though the operation was smooth, she could not survive. Inspired by the case, the clinic was set up and expected to be the meeting place of interested parties — poor patients, philanthropists, volunteers and professionals.

Now operating on a plot of 1,000 square meters donated by residents, the clinic virtually serves as a hospital with two inpatient rooms and a maternity ward. A house for mental patients is planned to be built on the site. “We call on people wishing to save for the hereafter and live a peaceful life, to sincerely contribute to our effort for the poor,” appealed Gunawan.

Needy people in Purworejo no longer have to be worried about medical expenses when they get sick today because on Jl. Ring Road Utara, Lugosobo, Purworejo, Umiyah Clinic has operated since 2010 to provide free medical care. Patients need only to leave some money as a gift (infaq) or nothing at all if they cannot spare.

Marsudi, a timber industrial worker who had an accident and was treated at Umiyah, claimed the clinic had rendered medical service hospitably and sincerely. “I feel calm without bothering about money for my treatment and I’m recovering,” said the father of one child.

“Patients are suggested to give some voluntary infaq because totally free service may be less educative, but if they can’t afford it it’s okay,” said Gunawan, the chief founder of Umiyah, which lists 700 to 1,000 patients monthly with their infaq totaling Rp 5 million to 6 million. At the operational cost of Rp 20 million to 30 million per month, the clinic relies on charity funds to cover the shortfall.

When it was founded in 2010, with a volunteer physician and several nurses, Umiyah focused on maternity care for its relatively lower operational cost. In the first three months, the number of general patients was swelling. The management even once considered limiting the number to 100 monthly.

“Some people scornfully said the clinic would close down in two years. But up to the present we’ve never been in deficit and have even recorded a balance of Rp 65 million,” said Gunawan. The balance is meant for the clinic’s development and the handling of unexpected cases requiring special treatment.

At present, Umiyah has four doctors, four senior nurses and an assistant pharmacist. To promote its service, it will open internal disease and surgery departments. A surgeon is now ready to cooperate and help poor people needing operations. The specialist will handle his patients at a referral hospital and the clinic and be in charge of their recuperation.

The clinic also cooperates with local family welfare associations (PKK) to help handle these patients’ procedural matters and reduce their charges. A senior doctor at Umiyah, Padmi Bekti Lestari, claimed to devote herself to the clinic not for money. “I work with private hospitals where money is first required for medical care. But what about poor families?” queried Padmi.

To share with the poor, Padmi has left one of the several hospitals to enable her to serve the clinic. “I earn my living from the other hospitals and I enjoy my happiness here, which can’t be valued by money,” she revealed.

All clinic finances are openly reported by announcing them on the website and notice board. Umiyah personnel also receive salaries above minimum rates. “But it’s not our main goal. If your media publish a report on this clinic, what we primarily expect is to make the poor informed of the place where money poses no problem to medical care,” she added.

dikutip dari http://www.thejakartapost.com/news/2012/03/20/gunawan-setiadi-from-charity-free-medical-care.html