Thursday, December 9, 2010

Susahnya kalau miskin dan terserang eklampsia

Ditengah malam, dua hari yang lalu, seorang ibu melahirkan bayinya di RB Umiyah. Proses kelahirannya berlangsung cepat, bayinya langsung menangis, namun ibu tersebut kemudian merasa sakit kepala dan terus pingsan. Ibu tersebut terserang eklampsia. Pasien terus diinfus dan segera dirujuk ke rumah sakit umum di Purworejo. Ternyata oleh RSU Purworejo, ibu tersebut kemudian dirujuk ke RSU Dr Sarjito di Yogyakarta.

Pre-eklampsia adalah suatu keadaan pada wanita hamil yang disertai dengan tanda tanda berupa tekanan darah tinggi, bengkak bengkak dan adanya protein dalam air kencing (urine). Pre-eklmapsia bisa menjadi eklampsia, yaitu keadaan pre-eklmapsia yang disertai dengan kejang kejang atau pingsan (koma). Eklampsia dapat menyebabkan kematian pada janin dan ibu. 

Ketika periksa hamil, ibu tersebut sudah didiagnosa menderita pre-eklampsia, mendapat obat untuk menurunkan tekanan darahnya dan disarankan untuk periksa ke RSU dan melahirkan disana. Namun hambatan biaya dan hambatan lainnya membuatnya tidak bisa menuruti saran bidan tersebut.

Ibu tersebut, meskipun berasal dari keluarga tidak mampu, masih mempunyai dana kontan sebesar Rp 325,000 ditangannya. Sayangnya, biaya sewa ambulans dari RSU Purworejo ke RSU Sarjito saja sebesar Rp. 375,000. Belum biaya untuk pengantar dan biaya lainnya. Akhirnya, diputuskan bahwa RB Umiyah memberi dana talangan kepada ibu tersebut sebagai sangu ke Yogya. Bila ibu tersebut tidak mampu mengembalikan, akan kita anggap sebagai sumbangan atau bantuan dari RB Umiyah.

Itu sepenggal kisah tentang pasien RB Umiyah. Banyak  hambatan non-teknis yang menghalangi seorang ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkannya. Alhamdulillah, berkat dukungan dermawan kepada RB Umiyah, ibu tersebut bisa segera dirujuk ke RSU Sarjito. Informasi terakhir yang saya terima, ibu tersebut telah sadar. Semoga bisa segera sembuh dan kembali kerumah.

Di Nepal, negara yang jauh lebih miskin dari Indonesia. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu berani menggratiskan biaya persalinan, dan masih ditambah lagi dengan penggantian biaya transportasinya ke rumah sakit. Oleh karena itu tidak heran bila Nepal termasuk negara yang berhasil menurunkan angka kematian ibu.
Saat ini ada 7 program perlindungan kesehatan sosial (Social Health Protection) di Nepal:

1. Pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas bagi semua orang.
2. Pelayanan persalinan gratis oleh tenaga kesehatan. Bila melahirkan di rumah sakit (institusi kesehatan), biaya transportasi juga diganti.
3. Gratis biaya operasi jantung untuk anak dibawah 15 tahun dan orang tua diatas 75 tahun.
4. Gratis cuci darah dan pengobatan kanker bagi masyarakat tidak mampu.
5. Biaya pengobatan gratis bagi suku minoritas dan penduduk dengan kasta paling bawah.
6. Gratis biaya operasi rahim turun (prolapse uteri)

Indonesia, yang jauh lebih kaya, perlu belajar dari Nepal.








Yang Muda dan Dermawan

Donasi online di Amerika meningkat secara signifikan. Bila ditahun 2000 donasi online baru mencapai $ 250 juta, pada tahun 2005 sumbangan online sudah menjadi $ 4,5milyar. Meskipun meningkat secara cepat, namun donasi online hanya meruapakan sebagian kecil (2-3%) dari keseluruhan donasi individu di Amerika yang setahunnya bisa mencapai $ 200 milyar. Biaya untuk fundraising melalui online juga lebih murah dibanding biaya fundraising melalui surat maupun telemarketing.

Belum lama ini sebuah portal organisasi nirlaba terbesar di Amerika Network for Good bekerjasama dengan Guidestar, melakukan study tentang donasi secara online. Sejak mulai beroperasi di tahun 2001 Network for Good telah memproses donasi sebesar $100 juta dan menyalurkannya ke 23.000 yayasan sosial. Bersama Guidestar yang mempunyai database organisasi nirlaba terbesar, mereka menganalisa data sumbangan senilai $100 juta tersebut untuk mengetahui:
  • siapa yang menyumbang secara online
  • kapan mereka menyumbang
  • bagaimana penyumbang online menggunakan dana sumbangannya
  • mengapa dermawan online menyumbang lewat portal
Laporan lengkap study tersebut bisa didownload disini. Adapun ringkasan studinya adalah sebagai berikut:
  1.  Penyumbang online masih muda (38-39 tahun) dan murah hati, rata rata memberikan beberapa kali lebih besar dari donor offline.
  2. Pria dan wanita menyumbang secara online dalam jumlah yang sama.
  3. Hampir semua pemberi online (96%) sebelumnya telah memberikan sumbangan untuk amal, tapi proporsi yang cukup besar (38%) belum lama menjadi dermawan online.
  4. Pemberian secara online memberi sejalan dengan tren belanja dan perbankan online, dan merupakan jalan pilihan bagi donor selama bencana.
  5. Kebanyakan orang memberikan online pada hari kerja, umumnya selama jam kerja, antara 10:00 dan siang hari.
  6. New York adalah negara yang paling dermawan online; Mississippi dan North Dakota adalah yang paling kurang.
  7. Pemberian online mengikuti fenomena "ekor panjang (long tail)" sama seperti yang terlihat di penjualan online buku dan musik. Artinya, sebagian besar dermawan menyumbang dalam jumlah kecil namun sebagian kecil orang menyumbang dalam jumlah sangat banyak.
  8. Kebanyakan pemberian online mengalir ke lembaga bencana, diikuti dengan kegiatan amal yang terkait dengan hewan.
  9. Sebagian besar donasi online untuk penanggulangan bencana, diikuti dengan sumbangan untuk  "anak-anak," "kanker," dan "tunawisma."
  10. Organisasi amal yang kecil mendapat manfaat dari keikutsertaannya dalam portal jaringan organisasi amal; di portal Network for Good separuh sumbangan untuk amal  mengalir ke organisasi sosial berukuran kecil dan menengah.
  11. Para dermawan online mengatakan bahwa mereka menyumbang secara online karena  lebih mudah daripada menulis cek dan cara cepat untuk menanggapi bencana.

Wednesday, December 8, 2010

Menggalang dana untuk tujuan sosial secara online

Apakah website RB Umiyah mampu menarik dermawan untuk menyumbang? Saya tidak tahu jawabannya.  Selama ini para penyumbang RB Umiyah adalah para dermawan yang sudah kenal dengan pengurus dan sumbangan internal dari pengurus yayasan itu sendiri . Artinya, ada kontak langsung antara pengurus yayasan dengan para dermawan. Ternyata adanya keterkaitan antara dermawan dengan yayasan yang disumbang juga terjadi di AS sesuai dengan hasil studi The On-line Giving Study: A Call to Reinvent Donor Relationship.

Katya Andersen membuat ringkasan hasil temuan yang penting dari study tersebut sebagai berikut:

  1. Penggalangan dana adalah masalah hubungan sosial. Penelitian tersebut memperkuat fakta bahwa kuatnya hubungan antara dermawan dengan organisasi /yayasan mempengaruhi kesediaan menyumbang. Pengalaman dermawan ketika menyumbang kepada suatu yayasan sosial  mempengaruhi loyalitas, frekuensi, dan besarnya sumbangannya. Peningkatan dalam pelayanan kepada dermawan akan meningkatkan jumah donasi.
  2. Di AS, pemberian donasi melalui jaringan sosial (seperti facebook) cukup signifikan, tapi loyalitas para dermawan sangat tinggi terhadap donasi melalui website resmi dari organisasi sosial yang mereka kenal. Loyalitas donor lebih tinggi pada donasi melalui website resmi dari yayasan dibanding melalui website umum (generik) atau portal.
  3. Analisis dari pemberian melalui online secara kumulatif menunjukkan bahwa donor yang menyumbang melalui  website resmi suatu organisasi amal memberi sumbangan dalam jumlah lebih besar dan lebih sering. Dermawan yang menyumbang lewat portal menyumbang dalam jumalh lebih sedikit dan lebih jarang menyumbang.
  4. Sumbangan yang diberikan secara rutin oleh dermawan merupakan sumber utama sumbangan dan hal ini perlu mendapat perhatian pengurus yayasan sosial.
  5. Sumbangan banyak diberikan bila terjadi bencana dan pada bulan Desember (di AS), sedangkan menurut pengamatan saya, di Indonesia banyak sumbangan dikeluarkan selama bulan puasa.
  6. Pemberian sumbangan melalui online banyak dilakukan selama jam kerja.

Tuesday, December 7, 2010

Wirausaha Sosial: Tirto Jiwo

Akhir akhir ini, kasus pemasungan penderita gangguan jiwa muncul lagi kepermukaan. Ini sungguh suatu kemunduran karena beberapa tahun lalu hampir semua kasus pemasungan hilang dari bumi Nusantara. Hal ini terjadi, salah satu penyebabnya adalah akibat kurangnya dukungan dana jamkesmas bagi pasien gangguan jiwa. Pemerintah Pusat mengharapkan pemerintah daerah ikut menanggung sebagian biaya penanganan penderita gangguan jiwa. Pemerintah Daerah tidak tergerak. Sebagian besar penderita gangguan jiwa berasal dari masyarakat kalangan bawah. kemampuan mereka juga terbatas. Penderita gangguan jiwa memerlukan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, saudara, teman dan kita.

Saya  kira kita ambil sisi positifnya saja. Berarti saat ini terbuka ladang amal bagi kita yang sehat jiwa raga dan mempunyai sedikit kelebihan (tenaga, pikiran, waktu, dana, keahlian, tanah, peralatan, dan lain lain) untuk bersama-sama memecahkan masalah tersebut. Saya kira, bila dipikul bersama oleh banyak orang, permasalah tersebut bisa kita hapus atau setidaknya bisa kita kurangi. Banyak langkah kongkrit bisa kita lakukan untuk memecahkan masalah tersebut. Kita tidak harus hebat atau kaya raya untuk ikut bergabung dalam proyek amal ini. Sebuah proyek amal berbentuk wirausaha sosial yang saya beri nama Tirto Jiwo.

Saya ingin sampaikan pemikiran saya tentang Tirto Jiwo.

Insya Allah, dalam waktu beberapa bulan mendatang akan tersedia tanah seluas 4000 m lebih, dipinggir jalan raya Purworejo-Magelang, sekitar 15 km dari Purworejo. Tanah tersebut masih berupa tanah tegalan yang memerlukan pematangan tanah. Tanah tersebut akan saya manfaatkan untuk mengembangkan sebuah wirausaha sosial dengan tujuan utama menolong para penderita gangguan jiwa untuk kembali hidup produktif di masyarakat.

Pelayanan yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut:

A. Pelayanan sosial berupa:
1. Asrama.
Langkah awal akan kita bangun sebuah asrama dengan luas bangunan sekitar 10x15 m. Bangunan akan terdiri dari 3 ruangan. Ruangan pertama 1 buah kamar isolasi bagi penderita yang masih akut atau kambuh (akut eksaserbasi). Ruangan ini akan berupa bangunan tembok penuh dengan sebuah kamar mandi dan WC didalamnya. Awalnya pelatihan ketrampilan akan dibatasi pada jahit menjahit dan peternakan atau pertanian. Ruangan kedua berupa ruang kamar berupa bangunan setengah tembok dan bangunan atas dari bambu (gedek) yang dipernis. Hal ini ditempuh untuk menghemat biaya pembangunan yang saat ini masih terbatas. Ruangan ketiga adalah ruang santai dimana akan disediakan sebuah TV kecil sebagai hiburan. Bangunan ini akan setengah tembok, namun dengan lantai keramik agar kebersihan bisa terjaga. bangunan ini akan dilengkapi juga dengan 2 buah kamar mandi dan WC.
2. Ruang perawatan dan pelayanan medis serta pembinaan psikologis bagi penderita. Selama berada di asrama, penderita akan mendapat pelayanan medis dari dokter spesalis jiwa dan perawat jiwa. Pembinaan mental psikologis juga akan disediakan. Setiap hari penderita akan diberi kegiatan, mulai dari apel pagi, olah raga (tenis meja, bola, dll) serta kegiatan musikal  atau menggambar.
3. Pelatihan ketrampilan kerja. Awalnya latihan ketrampilan kerja akan difokuskan di bidang jahit menjahit, peternakan dan pertanian. Pelatihan jahit menjahit akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan perusahaan jahit di Purworejo. Fokusnya adalah pada kegiatan pembuatan tas jinjing dari bahan sisa jahitan. Pelatihan di bidang peternakan dan pertanian akan melibatkan masyarakat disekitar lokasi asrama. Bentuk kerja samanya misalnya dengan sistem gaduh. Pihak yayasan akan memberikan ayam kepada petani untuk dikembangkan dengan syarat bahwa mereka harus bersedia melibatkan yayasan dalam pengelolaan ternak tersebut.
4. Penempatan kerja beserta dukungannya di Wirausaha Sosial Tiro Jiwo dan perusahaan mitra lainnya. Ini terkait dengan wirausaha sosial yang akan didirikan oleh yayasan. Dengan membuat wirausaha sosial diharapkan para penderita gangguan jiwa yang telah pulih akan mendapatkan pekerjaan. Tentunya selama mereka bekerja, terutama pada awalnya, dukungan bagi mereka masih diperlukan.

B. Wirausaha Sosial:

1. Perusahaan tas dan pakaian jadi. Saat ini beberapa usaha butik jahitan telah menunjukkan minat untuk bekerja sama. bahan sisa dari penjahit bisa dibuat menjadi tas tangan, dompet, dan lain lain. Permasalahan utama bukan hanya di produksi, tetapi juga didalam pemasaran produk tersebut. Untuk itu, pendekatan pemasaran sosial akan diterapkan, meniru pendekatan berbagai wirausaha sosial yang telah terbukti berhasil.
2. Peternakan dan produksi makanan jadi. Penderita gangguan jiwa bisa dilibatkan dalam pemeliharaan ayam atau ikan lele, misalnya. Namun karena margin keuntungan yang sangat kecil dibidang peternakan/pertanian ataupun perikanan, usaha ini perlu dikaitkan dengan usaha makanan jadi.

Apa yang bisa anda kontribusikan?

Bila anda ingin ikut beramal, banyak hal bisa anda lakukan, tergantung dari apa yang bisa anda kontribusikan, misalnya:

1. Menyumbang ayam, kambing, ikan, dll untuk dipelihara di Tirto Jiwo.
2. Bila anda punya keahlian melukis atau musik, anda bisa melakukan kegiatan dengan melibatkan penderita yang berminat dibidang tersebut.
3. Bila anda punya dana, anda bisa berkontribusi melalui dana anda. Anda bisa pula menyumbangkan ide (bagaimana mengembangkan wirausaha sosial, manajemennya, dll), tenaga (sebagai relawan), dll untuk ikut membesarkan Tirto Jiwo.

Monday, December 6, 2010

Ilmu tentang sedekah (3)

Science of Generosity Initiatitive, Universitas Notre Dame, Amerika Serikat mendapat hibah sebesar  US$ 5 juta dari  John Templeton Foundation untuk mempelajari masalah kedermawanan. Secara khusus mereka akan mempelajari: (a) sumber, asal dan penyebab kedermawanan, (b) ekspresi dan manifestasi dari kedermawanan, dan (c) konsekuensi dari kedermawanan terhadap si pemberi maupun si penerima.

Hingga saat ini telah ada beberapa teori yang telah mapan tentang kedermawananan. Lebih dari dua dekade yang lalu, ekonomis James Andreoni mengatakan bahwa seseorang yang memberikan sumbangan merasakan kepuasan internal yang disebutnya sebagai "cahaya hangat (warm glow)" Peneliti lain menyebutnya "penolong 's tinggi" (helper's high) -sensasi fisik yang meningkatkan perasaan harga diri dan membuat orang ingin memberikan lagi.


 Christian Smith, profesor sosiologi  dari Universitas Notre Dame menyampaikan beberapa fakta tentang kemurahan hati:
  • Ada beberapa jenis pemberian. Orang-orang memberikan sumbangan karena alasan yang strategis, altruistik, sentimental, impulsif, kebiasaan atau ideologis.
  • Orang-orang yang religius cenderung memberikan sedekah lebih banyak.
  • Orang-orang yang memiliki lebih banyak uang tidak selalu menyumbangkan lebih. Sering, yang benar malahan sebaliknya . Penelitian dari Prof Derek rucker, ahli pemasaran dan Prof Adam Galinsky, ahli etika dan pengambilan keputusan manajemen, Kellog School of Management, Northwestern Univresity menunjukkan bahwa orang yang berkuasa cenderung mengkonsumsi uangnya untuk diri sendiri, seadngkan orang yang lemah lebih cenderung bersifat dermawan.
  • Kemurahan hati adalah baik untuk Anda: warga senior yang sering menyumbang secara sukarela hidup lebih lama.
  • Sumbangan pada akhir tahun lebih termotivasi oleh pemotongan pajak akhir tahun daripada sentimen musim.
  • Orang-orang yang berencana memberikan sumbangan memberi lebih banyak daripada mereka yang tidak.
  • Rasa bersalah bukan merupakan motivator untuk menyumbang.
Banyak penelitian yang menemukan keterkaitan antar perasaan senang dengan kesediaan memberi. salah satunya adalah penelitian oleh Rosenham, Underwood dan Moore (1974) yang dilakukan terhadap anak anak menunjukkan bahwa anak yang hatinya senang lebih bersedia memberikan coklat yang mereka punyai dibandingkan dengan anak anak yang sedih. Penelitian juga menunjukkan bahwa memberikan sedekah menyebabkan orang menjadi berbahagia. Salah satunya adalah penelitian dari Harbaugh, Mayir dan Burghart (2007) yang menunjukkan adanya perubahan gambaran radiologis dari otak orang yang menyumbang sama dengan perubahan gambaran pada otak orang yang sedang merasa bahagia.
 
Ilmu tentang kedermawaman perlu diketahui oleh siapa saja, khususnya yang bergerak dibidang kegiatan amal.

Psikologi tentang sedekah (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan pembahasan tentang aspek psiikologis dari sedekah yang saya tulis beberapa hari yang lalu. Bahannya saya ambil dari artikel The Science of Giving 2: which make people happier -giving or receiving oleh Katya Andersen di websitenya. Topik berikutnya yang ditulis oleh Michal Ann Strahilevitz membahas tentang memberi dan menerima.

1. Mengapa kita bersedia memberi? Suatu kegiatan yang sepertinya agak kurang masuk akal. Jawabannya karena orang yang memberi mendapat manfaat secara emosional. Ternyata menurut riset yang dilakukan oleh Michal Ann Strahilevitz:
  • Menyumbang memberikan cahaya kehangatan dan kebahagiaan
  • Memberi sedekah membuat kita merasa senang dengan diri kita sendiri
  • Menyumbang membantu kita menghindari perasaan bersalah diri (guilty feeling)
  • Menyumbang mempertahankan image diri
2. Mana yang membuat orang lebih berbahagia, menyumbang besar sekaligus atau menyumbang kecil kecil namun sering?

Ternyata secara psikologis, kita merasa lebih senang bila kita memberi sedekah dalam jumlah yang lebih kecil namun dilakukan beberapa kali dalam waktu yang berlainan dibandingkan bila kita menyumbang sekaligus dalam jumlah besar. Jumlah total seluruh kebahagiaan dari kebahagiaan kebahagiaan kecil tatkala kita menyumbang uang dalam jumlah kecil ternyata lebih besar dari pada kebahagiaan sekaligus yang kita dapatkan ketika kita memberi dalam jumlah besar. Studi ini mempunyai implikasi penting bagi organisasi amal seperti RB Umiyah, silahkan para dermawan menyumbang dalam jumlah lebih kecil namun sering/rutin dari pada menyumbang sekali dalam jumlah besar. Sesuai denga artikel saya terdahulu dalam topik yang sama, orang yang berbahagia atau senang menyumbang lebih besar dibandingkan dengan orang yang kurang berbahagia.

3. Apakah ada keterkaitan antara kesediaan menyumbangkan waktu (tenaga) dengan menyumbang uang? Ternyata orang yang bersedia jadi relawan, menyumbangkan waktu dan tenaga juga bersedia menyumbangkan dana dan biasanya juga dalam jumlah yang lebih besar.

4. Mana yang lebih membuat kita berbahagia, memberi atau menerima?
  • Memberi dan menerima membuat kita berbahagia, namun kedua-duanya memiliki penurunan nilai marginal. Seperti kalau kita makan makanan enak, atau memakai baju baru kesukaan kita, perasaan senangnya makin lama makin menurun. Itu salah satu alasan mengapa ibu ibu harus sering beli baju baru.
  • Menyumbang atau menerima sumbangan sama sama membuat kita berbahagia, namun jenis kebahagiaannya berbeda. Kebahagiaan karena memberi sedekah tidak bisa digantikan oleh kebahagiaan karena menerima pemberian dari seseorang.
  • Jumlah kebahagian dari memberi dan menerima lebih banyak dibandingkan bila kita memberi sedekah dua kali atau mendapat pemberian dua kali. Menurut penelitian ternyata menerima hadiah sebesar Rp 500 ribu dan menyumbang Rp 1 juta lebih membuat orang berbahagia daripada mendapat hadiah Rp 500 ribu dua kali. Kebahagiaan karena memberi sedekah dan mendapat sumbangan juga lebih besar dari pada kalau kita memberi sedekah dua kali. Penelitian ini mendukung kenyataan mengapa pemasaran atau penjualan dengan tujuan amal bisa berjalan dengan baik. Orang merasa lebih berbahagia karena telah membeli sepatu baru dan juga berbahagia karena dia tahu bahwa dengan membeli sepatu tersebut dia telah menyumbang untuk kegiatan amal sholeh. Silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang menggabungkan bisnis dengan sedekah dengan mengklik disini
  • Dermawan akan lebih berbahagia dan akan menyumbang lebih besar bila si dermawan atau pemberi sumbangan bisa melihat dampak dari sumbangan yang dia berikan
Sekian dulu, semoga bermanfaat. Insya Allah ada lanjutannya.

Psikologi terapan dari sedekah (1)

Mengapa orang mau bersedekah? Mana yang lebih membuat bahagia, memberi besar sekaligus atau memberi sedkit tapi rutin?

Topik topik tersebut termasuk topik yang dibahas dalam buku The Science of Giving: Experimental Approaches to Study of Charity oleh Daniel M Oppenheimer (editor) dan Christopher Y. Olivola (editor). Sayang harganya cukup mahal ($ 75). Sehinnga saya sampai sekarang belum pernah membaca buku tersebut. Namun kebetulan saya berkunjung ke website milik Katya Andersen yang mengupas buku tersebut. Beberapa temuan penting yang menarik akan saya coba sampaikan disini.

Dalam bab pertama buku the Science of Giving, Lalin Anik dan kawan kawan mereview riset yang meneliti topik topik seperti : Apakah sedekah membuat orang merasa berbahagia? Apakah orang yang berbahagia memberi sedekah lebih banyak? Apakah mengamati dampak sedekah yang anda berikan akan membuat anda lebih tergerak untuk memberi sedekah?

Dari studi yang mereka lakukan ternyata jawaban dari pertanyaan pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
  • Ternyata sedekah membuat orang berbahagia. Orang yang memberi sedekah terbukti lebih berbahagia dibandingkan dengan orang yang tidak memberi sedekah. Mengeluarkan uang untuk dipakai orang lain yang lebih membutuhkan ternyata lebih membuat orang berbahagia dibandingkan dengan memanfaatkan uang untuk dipakai sendiri.
  • Orang yang berbahagia memberi sedekah kepada lebih banyak orang dan mereka juga memberi dalam jumlah yang lebih banyak. Ternyata suasana yang menyenangkan membuat orang jadi lebih dermawan. Seperti spiral yang melingkar keatas: karena memberi sedekah, anda menjadi berbahagia dan karena berbahagia anda lebih banyak lagi memberi.
  • Bila anda memikirkan atau mengamati dampak dari sedekah yang anda berikan, hal tersebut bisa memberikan dampak positip namun bisa juga akan berdampak menyakitkan bagi sipemberi sedekah. Bila suatu organisasi sosial memberi insentif kepada dermawan yang menyumbang, misalnya dengan memberi suatu tanda kenangan, sering membuat para dermawan berkurang rasa bahagianya dan membuat mereka berkurang kedermawanannya. Sedekah yang berasal dari lubuk hati seorang dermawan akan lebih membuatnya berbahagia dari pada bila karena adanya insentif dari luar. Kalau dalam istilah agama Islam, memberi sedekah karena riya ternyata tidak membuat orang merasa berbahagia.
Penulis asli artikel yang jadi rujukan tulisan tersebut (Lalin Anik, Lara B. Aknin, Michael I. Norton, Elizabeth W. Dunn) dalam papernya yang berjudul Feeling Good about Giving: The benefits (and costs ) of Self Interested Charitable Behaviour (yang bisa di download dengan mengklik judul tulisan tersebut) mewanti-wanti bahwa dengan menekankan dampak memberi sedekah akan membuat si pemberi sedekah berbahagia akan menyebabkan jumlah pemberian sedekah malah menurun. Sedekah memang seharusnya karena Lillahi Taala, karena Allah semata. Perkara pahala atau balasannya di dunia, kita serahkan kepada Yang Membuat Hidup. Penulis artikel tersebut mengingatkan agar pemberian sedekah sebaiknya karena motivasi internal, istilahnya karena Allah semata, bukan karena hitung-hitungan ekonomis atau psikologis.

Tunggu lanjutannya ya..