Saturday, November 20, 2010

6 Tip keuangan untuk pasangan muda

Bagi anda, pasangan muda yang sudah mempunyai penghasilan sendiri, sekarang saatnya untuk mulai mengelola keuangan anda secara bijaksana. Jangan anda sampai ikut-ikutan teman atau saudara yang mengelola keuangan hanya dengan mengikuti trend saat ini, yaitu hidup dengan berhutang. Hidup dengan berhutang lagi trendy, khususnya di Amerika dan Indonesia. Tidak hanya individu, negara Indonesia dan negara Amerika merupakan negara dengan banyak hutang. Karena banyak birokrat di Kementrian Keuangan maupun Bappenas sekolah di Amerika, maka tidak heran kalau kebijakan keuangan negara kita juga berkiblat kesana. Sebagai akibatnya, setiap tahun  triliunan rupiah harus negara keluarkan untuk bayar bunga dan pokok.  
Ada tip keuangan yang patut anda pertimbangkan.Tip keuangan tersebut disarikan dari buku Generation earn: The young professional's guide to spending, investing and giving back.
1. Tabung sepertiga penghasilan anda.
Saya perhatikan saat ini banyak orang Indonesia yang melakukan kebalikannya. Bukannya menabung tapi malahan terpaksa mengeluarkan sepertiga penghasilannya untuk membayar hutang. Mereka memulai hidup berkeluarga dengan berhutang, bukan menabung. Memang kelihatannya berat untuk menabung sepertiga dari penghasilan anda, terutama diawal berumah tangga karena begitu banyaknya kebutuhan hidup. Meskipun demikian, dengan hidup hemat kita akan bisa melakukannya. Menabung diperlukan untuk menghadapi saat sulit dan penuh ketidak pastian., seperti situasi saat ini. Menabung juga diperlukan bila kita ingin menjangkau sesuatu yang tinggi dikemudian hari. Menabung secara konsisten sepertiga penghasilan sangat diperlukan bila kita ingin mempunyai keuangan yang aman. Untuk bisa menabung kita perlu hidup hemat, misalnya dengan mengurangi pengeluaran yang tidak prioritas seperti pengeluaran untuk hiburan, makan di restaurant, beli barang ber-merk, sering berganti HP atau kendaraan bermotor, dan lain lain.
2. Investasi untuk pengembangan diri dan karir.
Kita boleh tidak berhemat bila untuk investasi bagi pemngembangan karir kita kedepannya. Investasi pengembangan diri tidak berarti hanya berupa pendidikan bergelar, tapi juga bentuk investasi lainnya. Istri saya cerita bahwa dia punya teman yang rajin beli buku ilmiah. Setiap saat selalu ada buku baru yang sedang dia baca. Karena kesenangannya membaca buku, menjadikan dia lebih berpengetahuan dibanding teman sekantor.nya Teman istri tersebut sering disuruh mengajar atau diminta menjadi pelatih dalam berbagai program pelatihan. Sebagian honor mengajar dia belikan buku buku ilmiah yang baru. Hobi membaca tersebut juga memperlancar pengembangan karirnya dikantor. Begitulah, karena rajin mengembangkan diri melalui membaca buku, penghasilan dan karirnya meningkat pesat.
3. Pupuk terus cita cita anda.
Banyak orang berhenti bercita-cita begitu selesai sekolah dan dapat pekerjaan. Cita cita, apalagi bila cita cita tersebut juga bernilai luhur, tidak hanya bernilai duniawi semata, akan dapat menjadi pendorong untuk anda tetap bersemangat. Banyak kesulitan dan hambatan dalam mengejar karir, cita cita yang luhur akan dapat menjadi pendorong dan pemberi semangat untuk kita tetap berjuang untuk mencapai cita cita tersebut. Pelajari kisah hidup teman teman senior anda yang sukses. Juga baca riwayat kehidupan orang orang hebat, banyak pelajaran bisa dipetik dari situ.
4. Lunasi segera hutang anda, kecuali hutang KPR BTN yang dengan bunga disubsidi.
Memang agak sulit untuk segera melunasi semua hutang bila penghasilan kita terbatas. Meskipun demikian, kita perlu membulatkan tekad untuk sesegera mungkin melunasi hutang hutang tersebut. Bila kantor memberikan bonus akhir tahun, atau kita mendapat penghasilan tambahan lainnya, gunakan dana tersebut untuk mempercepat pelunasan utang anda.
5. Jangan menunggu berinvestasi hingga anda mempunyai uang extra.
Mulailah investasikan sebagian penghasilan anda sedini mungkin. Mula mula bisa mulai dengan 2% penghasilan, lama lama tingkatkan jumlahnya. Kalau anda mau mapan secara keuangan, investasikan sebagian tabungan anda sedini mungkin. Tentunya, investasi yang halal dalam arti yang luas, termasuk investasi yang tidak terkait dengan riba. Sebaiknya investasikan di sektor riil. Tentunya hal ini tidak gampang. Pelajari bidang dimana uang anda akan anda tanam. Mungkin tidak bisa selalu langsung berhasil, namun bila dimulai ketika berusia muda, anda punya cukup waktu untuk belajar. Terus terang, secara pribadi, saya tidak melaksanakan tip ini. Jadi saya tidak bisa banyak memberikan pendapat disini. Yang jelas, bila saya bisa mengundurkan umur, saya akan coba berinvestasi sedini mungkin
6. Kembalikan sebagian rezeki anda kemasyarakat yang memerlukan. Berbagi tidak pernah merugi. Sedekah tidak akan mengurangi kekayaan kita. Mulailah berbagi sedini mungkin. Saya amati banyak penulis yang sukses karena sebagian honornya dipakai untuk kegiatan amal (misalnya Paulo Coelho). Dorce Gamalama juga rajin beramal. Banyak usahawan sukses juga karena mereka rajin bersedekah. Bill Gate dan Warren Buffet menyedekahkan lebih dari 50% kekayannya untuk amal. Mulailah seawal mungkin membayar zakat 2,5% penghasilan anda. tingkatkanlah sedikit demi sedikit hingga mencapai 30% penghasilan. Insya Allah anda akan sukses dunia akhirat.

Friday, November 19, 2010

Wayan Nika, Guru PNS yang juga pendekar anak terlantar

Saya pernah mendirikan dan mengelola panti asuhan. Namanya Panti Asuhan Amanah yang berlokasi di Perumahan Reni Jaya, Pamulang, Tangerang Selatan. Panti Asuhan berjalan dengan baik. Pengelolaan keuangan berjalan transparan karena kita membuat laporan keuangan bulanan. Meskipun demikian, jumlah penghuni panti sangat terbatas, kurang dari 10 orang. Sebagian besar dari anak asuh tetap tinggal bersama orang tua/ saudara dekatnya. Panti Asuhan menyantuni biaya sekolah umum dan membantu pendidikan agamanya. Karena itu, ketika saya membaca tentang Pak Wayan Nika mempunyai panti asuhan dengan 300 anak asuh di internet, saya mengutipnya. Saya mendapatkan banyak inspirasi dari membaca kisah hidupnya. Untuk itu, sengaja saya kutip disini.
Sudah 1.400 anak dari keluarga kurang mampu yang pernah diasuh oleh Wayan Nika dan ia buat menjadi manusia-manusia yang mandiri. Wayan Nika mengelola panti asuhan yang didirikannya pada tanggal 15 Oktober 1985 di Klungkung, Bali. Mulai dengan 4 anak dari kelurga yang mengalami konflik karena menantu membunuh mertuanya. Jumlah anak dengan cepat bertambah hingga mencapai 20 orang di tahun pertama. Mereka berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu membiayai sekolahnya.

Suami dari Ni Nyoman Suwasti , 52, yang lahir dari keluarga pedagang berkecukupan mengaku sering terusik nuraninya melihat kemiskinan di sekitarnya. Apalagi setelah pada tahun 1976 dia bekerja sebagai fotografer turis yang dengan mudah mendapatkan uang dengan menjual foto hasil jepretannya. Hanya dengan mengikuti rombongan turis dalam 1 minggu, dia sudah bisa membeli mobil. Padahal saat itu dia sudah merangkap kerja sebagai guru dan mulai merintis sejumlah toko.
Terbersit gagasan dalam pikirannya, kemiskinan terjadi karena orang tidak memiliki peluang untuk belajar. "Karena itu mereka tidak bisa melihat dan memanfaatkan kesempatan," ujarnya. Namun untuk bisa belajar dengan baik, mereka yang lahir dari keluarga miskin harus dipenuhi dulu kebutuhan makanannya.
Ia mulai menyiapkan pendirian sebuah Panti Asuhan di atas tanah seluas 1 hektar yang dibelinya ketika masih duduk di bangku SMEA dari hasill bisnis menjual kayu nangka. Selain membangun gedung, dia juga menanam pohon kelapa dan membuat kolam ikan. Tujuannya, anak-anak panti nantinya bisa menghidupi diri sendiri dengan usaha kebun dan kolam ikan itu.
Karena kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak panti, pada tahun 1987, Nika mendirikan panti di Denpasar. Ia menyewa sebidang tanah dan mendirikan bangunan sederhana sebelum akhirnya berhasil membeli tanah dan membangun gedung permanen. Hebatnya, bangunan di atas lahan seluas 23 are itu dikerjakan setahap demi setahap oleh anak asuh panti di bawah pengawasan satu tukang profesional. Baru pada tahun 1998, bangunan dengan 8 lantai bisa diselesaikan sepenuhnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, panti juga mendirikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Kelas Kecil. Selain itu ada kelas Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU) dengan tutor yang disediakan Dinas Pendidikan. "Kita dirikan karena biaya mengikuti sekolah di luar terlalu mahal dengan berbagai pungutan," ujarnya yang kini berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan jabatan pengawas Sekolah. Menariknya, para siswa mendapat ilmu tambahan dengan pelajaran ekstra seperti menjahit, menabuh gamelan, menari dan olahraga angkat besi. Keunggulan lainnya adalah dalam hal penguasaan bahasa karena mereka juga dibiasakan melatih kemampuan bahasa Inggris, Mandarin, Jepang dan Korea.
Panti juga sempat memberikan pendidikan wirausaha dengan membuka usaha bakso di sejumlah tempat. Sayangnya,setelah sempat berkembang kemudian diterpa krisis akibat ledakan bom di Bali pada 2002 dan 2005.
Untuk membiayai operasional Panti, Nika awalnya mengandalkan dari bisnisnya yang berkembang pesat antara tahun 1976-1998. Dia berhasil memiliki toko, studo foto dan tempat fotocopy yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. "Kalau ada kekurangan, saya gadaikan saja barang-barang pribadi," katanya yang meraih SatyaLencana Pembangunan dari alam Persiden Soharto pada 1995. Namun ketika Bali terimbas krisis moneter 1998 semua usahanya bangkrut sehingga sempat mengalami kesulitan keuangan.
Syukurnya, situasi itu tak berlangsung lama karena tanpa diduga banyak orang asing yang ingin membantu kesulitan warga Bali. Mereka berdatangan secara pribadi atau melalui Yayasan menyalurkan berbagai bantuan. Setiap bulan, bantuan dana bahkan mencapai puluhan juta rupiah. "Sampai ada pihak-pihak yang iri," ujarnya yang kini masih menempuh pendidikan S3 di Fakultas Sastra Universita Udayana. Padahal untuk kebutuhannya sendiri, ayah dari Ni Wayan Ekayani (22) dan Ni Made Dwiyani (21) Nika itu sudah merasa cukup dengan gaji PNS-nya.
Terjun di dunia sosial sendiri , menurut Nika, memberikan kepuasan tersendiri. "Sangat menyenangkan selama kita bisa tulus mengabdi," ujarnya. Dia mengaku selalu kebingungan menjawab pertanyaan mengenai sisi kesulitan dari usahanya. Sebab, setiap masalah sepertinya telah disediakan jalan keluarnya.

Thursday, November 18, 2010

Dian Syarif, pahlawan Lupus

Saya sangat mengagumi Dian Syarif yang berkiprah melalui LSM bernama Syamsi Dhuha Foundation. Penykit Lupus yang dideritanya telah mengantarkannya menjadi manusia teladan. Beliau salah satu pemenang Danamon Award tahun 2010.
Saya kira wajar bila banyak orang geram melihat "komedi Gayus". Energi kegeraman terhadap Gayus, sebagian bisa kita salurkan dengan berbuat sesuatu yang kongkrit dan positif. Mari kita dukung Dian Syarif dan Syamsi Dhuha Foundation. Berikut ini "cuplikan" tentang kehidupannya yang saya kutip dari website Danamon.
Sepintas Dian Syarief tak berbeda dengan perempuan pada umumnya. Tampak sehat dan energik. Tapi saat ingin melihat gambar atau foto, dia harus mendekatkan matanya. "Ini gambar apa ya?" ujarnya memastikan.
Dian Syarief menderita low vision setelah Systemic Lupus Erythematosus menderanya sejak 11 tahun lalu. Penyakit yang lebih dikenal dengan Lupus ini memaksa Dian hidup dengan berbagai pengorbanan. Ia misalnya tidak bisa melihat jam tangan. Dian memencet sebuah tombol di jam tangannya yang bisa bersuara menunjukkan jam saat itu.
Bahkan tidak hanya itu. Lupus juga memaksa Dian harus dioperasi besar sebanyak 18 kali! "Salah satu operasi itu dilakukan untuk mengangkat rahim saya," katanya. Lupus menyerang pada 1999 ketika Dian berusia 33 tahun. Saat itu, perempuan kelahiran Bandung, 21 Desember 1965 tengah bekerja sebagai karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta. Dua tahun pertama, Dian harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani operasi dan sejumlah terapi karena Lupus di tubuhnya telah menimbulkan banyak komplikasi. Masa-masa itu sempat membuatnya syok dan bosan. "Bahkan yang membuat saya terpukul ketika efek dari terapi yang saya jalani menyebabkan saya harus kehilangan penglihatan dan tidak bisa berjalan," katanya. Karena itulah Dian merasa lima tahun pertama sejak divonis mengidap Lupus merupakan masa yang berat dalam hidupnya. Dia harus berjuang menyembuhkan diri meski sempat beberapa kali fisik dan mentalnya berada pada titik yang paling rendah.
Namun sejak 2004, Dian mulai mampu mengembalikan diri. Sedikit demi sedikit dia mulai bangkit. Bahkan tidak hanya memikirikan upaya untuk sembuh, Dian pun mulai membantu orang lain yang bernasib sama dengan dirinya. "Saya mulai berbagi dan memberi motivasi kepada orang lain," katanya.
Titik balik ini dipicu kesadaran Dian karena berkali-kali masuk ruang operasi. Setiap tersadar setelah operasi, setiap itu pula dia bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup. "Waktu itu terlintas di pikiran saya, mungkin ini kesempatan bagi saya untuk membantu orang lain," katanya.
Maka, Dian mulai berpikir untuk tidak hanya cukup berucap syukur kepada Sang Pencipta. Lebih jauh, Dian ingin berbuat sesuatu yang nyata bagi orang lain. Pada tahun 2004, bersama suaminya, Eko Pratomo, dia mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF), sebuah LSM nirlaba yang memberi perhatian khusus kepada para Odapus (orang dengan Lupus) dan penderita low vision. "Saya ingin sisa hidup saya dapat berarti bagi orang lain," ujarnya.
Menurut Dian, melalui program Care For Lupus, SDF ingin membesarkan hati para Odapus (orang dengan Lupus) dan keluarga yang mendampinginya, melalui berbagai aktifitas yang bermanfaat. Selain itu, kegiatan juga ditujukan kepada masyarakat luas.
"Bahkan cita-cita kami ingin memberikan kesempatan pada semua orang, bukan hanya Odapus, untuk mensyukuri segala karunia yang telah Allah berikan. Caranya, dengan melakukan berbagai aktifitas yang dapat bermanfaat bagi diri pribadi, sekaligus juga bagi orang lain," katanya.
Di antara kegiatan SDF adalah memberi pelatihan dan motivasi kepada para penderita Lupus sehingga bisa bangki kembali dari keputusasaan. Beberapa alumni pelatihan misalnya, telah mendapatkan sertifikasi di bidang shiatsu sehinga bisa bekerja kembali. "Meski penuh keterbatasan, kami ingin mereka tetap mandiri dan tidak bergantung pada orang lain," ungkap Dian.
SDF juga melakukan advokasi untuk para penderita Lupus yang mengalami tekanan di tempat mereka bekerja. Misalnya memberi penjelasan ke perusahaan bersangkutan untuk bisa memahami kondisi penderita Lupus yang mungkin saat bekerja tiba-tiba pingsan, atau memiliki penglihatan yang terbatas.
Dian bersama SDF juga mencetak komik untuk memberi pemahaman kepada masyarakat luas tentang apa dan bagaimana penyakit Lupus. "Komik kami pilih agar lebih komunikatif sehingga bisa dipahami semua orang, bahkan oleh anak-anak," ujarnya.
Kegiatan lain yayasan ini adalah memfasilitasi berbagai penelitian ilmiah. Selain itu, sejak tahun 2006, SDF mengupayakan obat murah bagi Odapus. Pada tahun ini SDF juga telah mengajukan kenaikan plafon Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi OKM (Odapus Kurang Mampu) kepada Kementerian Kesehatan RI.
Kini, ada sekitar 330 yang sudah bergabung bersama SDF. 300 orang di antaranya adalah odapus dan 30 orang mengidap low vision. Mereka tersebar di seluruh Indonesia, seperti Medan, Pontianak, Makasar, dan Denpasar. Demikianlah, dengan tantangan berupa keterbatasan keseatan, Dian bisa berbuat lebih bagi Odapus dan masyarakat luas.
Sedikit demi sedikit, sepak terjang SDF mulai terdengar baik di dalam negeri, maupun di luar negeri. Pada Mei 2007, SDF diundang menghadiri 'The 8th International Congress on SLE' di Shanghai - China.
Juni lalu, satu abstrak SDF berjudul 'How to Make Friend with Lupus' juga diterima panitia the 9th International Congress on SLE di Vancouver, British Columbia - Canada. Dian tidak hanya didaulat mempresentasikan konsepnya, tapi juga diganjar penghargaan internasional bernama International Lifetime Achievement Awards.
Semoga bermanfaat

Wednesday, November 17, 2010

Bekas gelandangan yang membantu gelandangan bangkit kembali

Ray Foster, veteran tentara Amerika, pernah kecanduan obat bius dan hidup menggelandang. Setelah keluar dari tentara, dia mulai berkenalan dengan alkohol dan obat bius yang kemudian membawanya hidup bergelandang. Kehidupan di rumah pecandu obat terlarang (drug house)  sangat tidak aman. Dia sering melihat berbagai bentuk kejahatan dan tembakan senjata. Ketika dia berusaha mencari tempat penampungan, ternyata tidak lebih baik dibanding kehidupan di jalanan. Sejak itulah, tertanam dihatinya niat untuk membantu veteran yang menggelandang.
Pada tahun 1994, bersama almarhun Donald Reed, dia mendirikan lembaga swadaya masyarakat Faith*Hope*Love*Charity. Meskipun demikian, baru pada tahun 2000 visinya terealisir dengan berdirinya Rumah Stand Down , sebuah rumah singgah bagi veteran tentara laki laki yang menggelandang. Menurut Naional Coalition for Homeless Veteran (Nasional Koalisi Gelandangan Veteran) dari semua gelandangan yang ada di Amerika, seperempatnya adalah veteran perang. Padahal jumlah veteran perang di masyarakat AS hanya sekitar 10%. Artinya, secara proporsional banyak bekas tentara Amerika yang terpaksa hidup menggelandang. Diperkirakan ada sekitar 100.000 hingga 300.000 veteran yang hidup menggelandang.
Rumah Stand Down memberikan rumah singgah sementara, konseling, bantuan keuangan dan bantuan untuk mendapatkan tunjangan dari kantor veteran. Sejak berdirinya, hingga kini lebih dari 1100 veteran perang Amerika yang telah memanfaatkan jasa pelayanan Rumah Stand Down.

10,000 lampu lentera tenaga surya GRATIS

Banyak anak anak dari keluarga miskin di pedesaan Kenya tidak bisa belajar dengan baik karena kesulitan penerangan. Mereka terlalu miskin untuk berlangganan listrik. Mereka menggunakan minyak tanah atau kayu bakar untuk penerangan dan memasak. Semua itu menyebabkan rumah pengap karena kebanyakan asap dan tidak tersedia secara gratis pula. Kini mereka berbahagia karena Evans Wadongo berhasil memberi jalan bagi keluarga miskin pedesaan tersebut untuk menggantikan lampu minyak tanah dengan lentera tenaga matahari. Dan mereka tidak perlu bayar karena Evans Wadongo memberikan lentera tersebut secara gratis. Mereka juga dapat memanfaatkan uang, yang biasanya dipakai untuk membeli minyak tanah, untuk mencukupi kebutuhan lainnya, seperti kebutuhan sekolah anak anaknya.
Evans Wadongo merupakan anak ke-empat dari keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Ayahnya seorang guru SMU. Ia merasakan susahnya belajar dengan memakai lampu minyak tanah. Pada tahun 2004, ketika kuliah di Fakultas Pertanian dan Teknologi, Universitas Kenya, dia mendapat ide untuk membuat lentera dengan memakai tenaga matahari. Tenaga matahari tersedia gratis dan bisa diakses dari mana saja, termasuk di pedesaan. Sayangnya, semua panel tenaga surya berukuran besar dan tidak sesuai untuk keluarga miskin di pedesaan. Ketika pulang dari rumah temannya, dia tersandung pecahan panel tenaga surya 9solar panel). Pecahan kecil solar panel tersebut ternyata sudah cukup untuk menghasilkan energi bagi sebuah lampu lentera sepanjang malam. Sejak saat itu lahirlah sebuah proyek " Use Solar, Save Lives". yaitu memberikan lampu lentera tenaga matahari gratis untuk masyarakat miskin di pedesaan Kenya.
Mula mula Evans Wadongo membuat lentera tenaga surya dengan uang dari keluarga dan sumbangan teman temannya. Pembuatan lentera berjalan sangat lambat karena keterbatasan dana. Ketika dia mengikuti pelatihan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Sustainable Development for All Kenya, Evans menceritakan tentang kegiatannya membuat lentera tenaga surya. Organisasi tersebut bersedia membiayai proyeknya, serta mengangkatnya sebagai mitra dan meletakkannya sebagai Ketua Dewan. Karena skala produksinya cukup besar, mereka mampu menekan biaya produksinya hingga hanya sekitar Rp 200 ribu per buahnya.
Dengan dukungan sumbangan dari yayasan Sustainable Development for All Kenya, lentera tenaga matahari tersebut bisa dibagikan gratis ke keluarga miskin pedesaan yang membutuhkan. Lentera tenaga surya telah mampu meningkatkan pendidikan anak anak keluarga tidak mampu dari pedesaan Kenya. Hingga kini, Evans Wadongo telah memberikan sekitar 10.000 lentera tenaga surya kepada keluarga miskin pedesaan.

Harmon Parker, membantu pembangunan 45 jembatan di Kenya

Harmon Parker, berasal dari Lexington, Kentucky, Amerika Serikat, datang ke Kenya tahun 1989 sebagai seorang missionaris. Pekerjaannya mengharuskan dirinya untuk banyak bepergian ke daerah daerah terpencil yang sulit dijangkau. Sungai deras dengan buaya dan binatang buas lainnya menjadikan banyak desa terisolir akibat ketiadaan jembatan. Namun fokus kegiatannya berubah ketika pada tahun 1996 , dia bertemu dengan Jay Hindson yang mengenalkannya dengan teknologi pembuatan jembatan gantung sederhana. Sejak saat itu dia membantu masyarakat desa terpencil untuk membangun jembatan gantung sederhana. Jembatan adalah kebutuhan nyata masyarakat desa desa terpencil di Kenya. Masyarakat tidak menerima pembangunan jembatan secara gratis. Mereka harus berkontribusi, baik berupa tenaga untuk menggali pondasi, atau menyumbang batu dan kebutuhan lainnya. dengan demikian masyarakat ikut memiliki jembatan tersebut dan merawatnya.
Pada tahun 2003, dia mendirikan organisasi bernama Bridging the Gap Africa yang mengawasi pembangunan jembatan tersebut. Adanya jembatan telah memudahkan anak pergi ke sekolah, menghidupkan perekonmian desa, mencegah kematian akibat tenggelam atau digigit buaya, dll. Sejak 1997, dia telah membangun sekitar 45 jembatan di Kenya. Rata rata panjang jembatan yang mereka buat sekitar 40 meter, dengan biaya sekitar 60 juta rupiah per buahnya. Jembatan tersebut dibangun dengan material setempat dan dengan alat sederhana sehingga masyarakat desa bisa merawatnya. Karena keterbatasan dana, Parker hanya mampu membangun sekitar 5-6 jembatan per tahunnya. Meskipun sebenarnya kebutuhan akan jembatan jauh diatas kemampuannya membangun jembatan.
Soal jembatan ini mengingatkan saya ketika bertugas sebagai dokter Inpres di pedalaman Kalimantan Barat di awal tahun 1980an. Saya mengalami masalah karena ketiadaan jembatan dan sulitnya menyeberang sungai ketika banjir. Ketika itu sampai ada gurauan: "Di Jakarta banyak jembatan, tapi tidak ada sungai. Di Kalimantan ada banyak sungai tapi tidak ada jembatan".

Susan Burton, membantu 400 mantan narapidana wanita kembali ke masyarakat

Susan Burton dibesarkan di bagian timur Los Angeles, Amerika Serikat.  Dia mulai memakai narkoba pada tahun 1981 ketika anak laki lakinya yang berusia 5 tahun meninggal karena tertabrak mobil. Susan Burton, karena tidak bisa mengatasi kesedihannya, akhirnya terperangkap dalam kecanduan rokok dan obat bius, yang membawanya ke penjara. Sekeluar dari penjara, tidak berapa lama kemudian dia terjatuh kembali kedalam perangkap obat bius yang mengantarnya kembali masuk penjara. Begitu berulang kali terjadi hingga akhirnya dia bisa bersih kembali setelah berobat di panti rehabilitasi di tahun 1997.  
Sejak itu, Susan Burton bertekad untuk membantu wanita pecandu narkoba yang baru keluar dari penjara untuk bisa kembali hidup normal di masyarakat. Dia bekerja keras dan menabung sehingga dapat membeli sebuah rumah di Watts. Dia meletakkan tempat tidur susun di kamar tidurnya, dan menyulap ruang makan jadi kantor sekaligus kamar tidurnya. Di akhir tahun 1998 dia buka pintu rumahnya dan mulailah programnya berjalan. Tidak berapa lama telah ada 10 wanita tinggal di rumahnya. Mereka saling membantu untuk bisa lepas dari narkoba dan kembali ke masyarakat.
Kini Susan Burton, dengan dukungan donasi individu maupun organisasi swasta telah memiliki 5 rumah yang mampu menampung 22 wanita sekaligus. Susan Burton juga telah memiliki sertifikat sebagai konselor ketergantungan obat. Setiap minggunya dia menerima 20-30 surat dari wanita penghuni penjara akibat penyalah gunaan obat bius. Dia membalasnya satu persatu dan berjanji untuk menampung mereka sekeluarnya dari penjara. Susan Burton mendirikan sebuah LSM bernama A New Way of Life sebagai sarana melaksanakan visi dan misinya, yaitu mempersiapkan bekas penyalah-guna obat bius untuk kembali hidup normal di masyarakat.